Sebagai individu yang berada pada puncak rantai makanan, mahasiswa memiliki kebebasan dalam menentukan sikap, kebebasan berpendapat, kebebasan berkarya dan sebagai individu yang merdeka dari segala tekanan.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus memiliki naluri yang tajam dan kritis atas permasalahan yang ada dikampus dan negara. Selain itu, sebagai agen kontrol dan agen perubahan, mahasiswa harus memiliki naluri pemberontak atas ketimpangan yang terjadi dalam kehidupan. Mahasiswa yang kritis di kampus bagus tapi jangan sampai melupakan cara menjadi manusia yg sesungguhnya.
Mahasiswa sebagai bagian dari roda perputaran generasi bangsa patut ikut andil dalam peralihan dan pengawasan. Seperti pepatah yang dituturkan oleh Bapak Bangsa Indonesia, Ir. Soekarno, “Beri aku 1000 orangtua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kugoncangkan dunia.”Hal ini yang menandakan bahwa peran pemuda terutama mahasiswa sangatlah berpengaruh terhadap gejolak sosial masyarakat. Mahasiswa tak hanya dapat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, namun juga dapat mempengaruhi keadaan yang tengah berlangsung.
Nalar kritis yang dimiliki Mahasiswa harus diimbangi dengan kesadaran sosial lingkungan dalam diri masing-masing. Empati dan kepedulian harus terus disemarakkan untuk mengurangi gejala-gejala sosial dan lingkungan yang mulai timbul. Akan tetapi, perkembangan IPTEK justru menjadi momok ketimpangan-ketimpangan yang terjadi. Masih sangat banyak mahasiswa yang apatis terhadap lingkungan sekitanya. Mereka seakan melupakan bahwa mereka hidup di lingkungan. Benar sekali, saat ini mahasiswa dan para kaum intelektual seolah anak SD yang tanpa merasa berdosa membuang sampah dan mencemari lingkungannya sendiri, sedangkan dia terus mengejar prestasi-prestasi di kelasnya. Begitulah Indonesia saat ini, banyak sekali kaum intelektual yang sibuk membicarakan negara dan kepentingan rakyat lainnya. Akan tetapi, lupa terhadap lingkungannya. Dengan bangga menolong para korban banjir, tetapi gengsi untuk mengatasi dan mencari solusi untuk penyebab banjir terjadi. Bahkan, ada yang masih terang-terangan membuat caption tentang banjir merupakan teguran Tuhan, tapi masih sering membuang sampah di selokan. Berpendidikan tinggi tapi miskin kesadaran dan kepedulian .
Permasalahan dalam hal lingkungan akhir-akhir ini menguak kepermukaan bagaikan sebuah air yang sedang mendidih mengeluarkan buih kepermukaan. Pemerintah gencar melakukan dan mancari cara untuk meminimalisasi sampah, salah satunya pada saat ini dalam pembagian Daging Hewan kurban. Pemrintah menerapkan salah satu cara dalam mengurangi sampah, yaitu pemerintah menggunakan kudungan dari anyaman bambu. Permasalahan lingkungan bukan permasalahan yang baru namun pemerintah baru sadar dan membuka mata sekarang untuk mencari solusi untuk mengatasinya. Tentunya kita sebagai mahasiswa sekaligus warganegara yang memiliki tanggung jawab memelihara negara demi kenyamanan dan warisan untuk anak cucu kita 10 tahun mendatang.
Masih banggakah seorang mahasiswa yang mengatakan dirinya pejuang peradaban negeri, jika hal-hal sederhana yang berdampak besar masih disepelekan? Mahasiswa, mari gunakan naluri yang tajah, pemikiran yang kritis, hak kebebasan serta peran sebagai agen perubahan ini sebagai tombak pemecah masalah yang ada, tak hanya tentang pribadi, rakyat dan negara, juga tentang lingkungan dan ibu kita pertiwi. Mari kita mulai benahi diri dalam menguak kesadraan akan pentingnya lingkungan.
Comments
Post a Comment